Wednesday, November 26, 2014

Desak-desuk Para Pemburu Kerja

Detik-detik menjelang kelulusan mendapat gelar sarjana di bidang sistem informasi membuat saya sangat bergairah untuk melamar pekerjaan di beberapa perusahaan yang ternama yang menyediakan lowongan khusus sistem informasi atau teknologi informasi. Saya mulai   searching di internet yang ada menyediakan lowongan pekerjaan untuk fresh graduate, baik melalui website nya langsung atau melalui acara jobfair di beberapa universitas ternama dan kota tertentu. Namanya juga mahasiswa yang baru lulus pikiran masih fresh tentang matakuliah, masih minim pengalaman, dan masih memliki semangat yang sangat menggebu-gebu. Dulumya saya pernah membuat komitmen terhadap diri saya sendiri, sebelum saya wisuda saya harus udah punya kepastian kerja di perusahaan A, jadi
setelah wisuda gak ribet-ribet lamar kesana-sini, toh setelah sidang akhir dan revisi saya sudah mendapatkan SKL "surat keterangan lulus"dari TU jurusan dan bisa digunakan untuk melamar pekerjaan ke perusahaan.

Pertama kali saya melamar pekerjaan adalah melamar ke bagian staff IT di bank bukopin, kebetulan tawaran tersebut saya dapatkan dosen matakuliah pada jurusan saya, dan ini kali pertamanya saya membuat CV dan membuat surat lamaran pekerjaan dengan berbekal teori dari internet dan langsung mempraktekannya. Setelah mengirimkan dokumen lamaran selang 2-3 harinya saya langsung dipanggil interview HRD dan User, ketika lulus maka saya melanjutkan test selanjutnya yaitu Psikotest. Setelah melewati tahap tersebut peserta semakin disaring dan sedikit, dan saya termasuk  dari salah satu orang yang beruntung hingga ke tahap Medical Checkup, kemudian beberapa minggu selanjutnya saya dipanggil dan dinyatakan telah lolos pada semua proses seleksi. Ups jangan senang dulu karena hingga saat ini saya masih menunggu panggilan untuk ke tahap selanjutnya, menurut isu sih bakal ada training 2 minggu dan penempatan di kota Surabaya.

Walau sudah dinyatakan telah lulus pada perusahaan tersebut tidak menutup kemungkinan saya untuk terus ikut seleksi pada rekrutmen perusahaan-perusahaan lain. saya juga aktif mengikuti jobfair di berbagai tempat seperti di jobfair ITS, jobfair Unair, jobfair Surabaya, Gresik hingga Malang dan Jogja, tetapi saya tidak jadi ke Malang dan Jogja berhubung tidak ada temannya yang mau bareng kesana. Kalau saya membuat daftarnya sudah sangat banyak perusahaan yang saya lamar mulai dari daftar secara online dan offline.


Dari beberapa daftar perusahaan yang saya lamar ada yang sampai proses interview HRD maupun User, tapi kebanyakan Php sihh,, maksudnya tidak dipanggil lagi sampai sekarang walau pemberitahuannya selama 2 minggu, jika tidak dipanggil berarti dianggap tidak lolos seleksi. Perusahaan yang sampai proses interview ada Astra Daihatsu Motor, KBR engineering Indonesia, kalau dipanggil tes tulis banyak sih dan gak mungkin disebutin satu persatu. Hampir semua perusahaan yang saya lamar dipanggil hingga test tulis, dan hanya beberapa saja yang beruntung dipanggil sampai proses wawancara.

       Mitos Nilai IPK Menentukan Kualitas Pekerjaan Anda?
Sejauh ini yang saya alami selama menempuh dunia mencari kerja, ada beberapa perusahaan yang tidak terlalu memperhatikan nilai IPK, maksudnya nilai IPK memang penting dan diprioritaskan tetapi ketika proses awal yang dilihat tidak hanya IPK namun dengan pendukung lainnya seperti CV, pengalaman organisasi, sertifikat, dan keahlian-keahlian dibidang lainnya. Asumsinya, kalau mahasiswa yang terlalu pintar dengan memiliki nilai IPK diatas 3.5 atau cumlaude lebih baik mereka melanjutkan studinya S2, dan tidak semua mahasiswa yang memperoleh nilai IPK pas-pasan pada dasarnya susah dapat pekerjaan atau nganggur. Jika saya becermin dengan kejadian teman seangkatan dan keadaan sekitar saya, tidak sedikit teman saya yang nilai akademiknya bagus diterima di perusahaan swasta dan sebagian masih ada yang sibuk mencari-cari pekerjaan. Begitu juga sebaliknya yang nilai akademiknya pas-pasan bahkan banyak yang sudah dapat panggilan sana-sini dan sudah memiliki pekerjaan di perusahaan tertentu.

Kalau saya boleh menyimpulkan didalam mencari kerja pintar saja tidak cukup tetapi juga harus didukung oleh faktor lain yang mendukung proses tersebut yaitu faktor luck, disisipi dengan ikhtiar dan doa serta strategi-strategi jitu didalam menjalankan proses rekrutmen, dan jangan lupa juga untuk selalu sholat istikharah agar diberikan pencerahan didalam memilih pekerjaan. Karena mencari kerja sama seperti mencari jodoh jadi harus cocok-cocokan, kalau gak cocok berarti belum jodoh dan harus move on dan mencari pekerjaan lain. Kebanyakan dari kita mulai patah hati ketika banyak penolakan dari perusahaan yang telah kita lamar, sehingga kita berpikir kalau kita tidak terlalu pintar, tidak cerdik dan sebagainya. Namun yang dicari perusahaan adalah karyawan yang cocok dengan pekerjaan yang mereka tawarkan. 

0 comments:

Post a Comment